Gantilah Busi Sebelum Terlambat

44
sss

OtomotifZone.com – Jakarta. Memiliki mobil atau motor baru? Wah, pasti senangnya bukan main. Setelah sekian lama bekerja keras dan cerdas, akhirnya kita memetik hasil jerih payah itu. Nah, ketika pertama kali membeli kendaraan, umumnya kita merasa yakin. Kalau pada kendaraan yang baru kita miliki itu, juga terpasang sejumlah part atau komponen baru berkualitas standar pabrik. Alhasil, keyakinan ini membuat kita menjadi ekstra hati-hati, dalam menjaga dan merawatnya.

New RC3 Products

Namun seiring berjalannya waktu, kendaraan yang kita miliki dan gunakan sehari-hari ini akan mengalami banyak perubahan. Baik itu perubahan pada komponen utama, maupun komponen pendukung. Akibat perubahan-perubahan itu, maka beresiko menimbulkan banyak gesekan. Dimana pada akhirnya gesekan-gesekan tersebut berpotensi menjadi penyebab keausan dan kerusakan komponen. Ujung-ujungnya tentu saja berpotensi mengganggu performa kendaraan secara keseluruhan.

Adapun di antara komponen kendaraan tersebut, salah satu bagian terpenting adalah busi. Lazimnya di awal pemakaian, tentu kita merasakan kendaraan yang kita gunakan memiliki daya respon sangat baik. Tingkat efisiensi penggunaan bahan bakar stabil, serta kendaraan sangat mudah ketika distarter. Tetapi ketika pemakaian kendaraan sudah cukup lama dan mencapai jarak tempuh lumayan tinggi, -sekian ratus atau sekian ribu kilometer-, maka keuntungan tadi tak lagi kita rasakan. Mengapa demikian?

Diko Oktaviano, Technical Support PT NGK Busi Indonesia mengatakan, komponen busi memiliki Elektroda Ground. Pada elektroda ini terdapat celah atau gap yang disesuaikan untuk standar mesin yang digunakan. “Tanpa sadar, di kondisi tertentu elektroda bisa mengalami erosi atau kerusakan, membuat gap melebar. Misalnya gap standar 0,7 mm menjadi 1,0 mm. Melebarnya gap, bisa membuat rentetan perubahan performa di kendaraan, sehingga dirasakan tak lagi optimal,” urainya.

Menurut Diko, jika sudah begitu maka komponen pendukung busi lainnya, seperti tutup busi, kabel pengapian, koil, bahkan baterai yang digunakan di kendaraan juga akan merasakan penurunan performa. “Sehingga kebutuhan transfer energi listrik yang awalnya katakanlah sebesar 1 Volt melonjak menjadi 2 Volt. Karena kinerja komponen pendukung harus ekstra maksimal, demi mensuplai kebutuhan busi,” tukasnya.

Akibat terjadi pemaksaan, maka beresiko tinggi terjadinya kerusakan pada komponen pendukung tersebut. Dapat membuat komponen itu diganti sebagian bahkan seluruhnya. “Jadi sebelum itu terjadi, sangat dianjurkan mengganti busi pada waktunya. Tak perlu menunggu sampai kendaraan mogok. Karena kalau sudah terjadi kerusakan, biaya servis komponen lain tentu jauh lebih mahal dibanding biaya mengganti busi,” imbuh Diko.

Naskah & Foto : Alun Segoro