Apa bedanya perokok dan Kawasaki Ninja 150?

0
658
Ilustrasi
sss

OtomotifZone.com-Bandung. Bagaimana tidak keluar kata makian, bila anda berada pada kondisi terasapi motor Kawasaki Ninja 150 di sebuah lampu merah, dengan durasi hitungan mundur 160 detik.

Perih rasanya mata dan sesaknya dada menahan nafas dari terjangan asap knalpot.

Apalagi melihat gelagat penunggang motor tersebut seakan tak berdosa dan bangga, ‘Kalau sempat ingin menempelkan telunjuk ke keningnya dengan sedikit dorongan rasanya’.

Dari semua keluhan itu, saya sadari mirip sekali dengan seorang perokok di tempat umum, yang merasa tak berdosa dan tak peduli pada yang lainnya. ‘Yang penting hasrat menghisap rokok terpenuhi toh?’

Namun saya heran mengapa motor Kawasaki Ninja 150 begitu banyak digemari oleh masyarakat Indonesia? Ya itu sama dengan rokok, walaupun dengan segudang bahaya tapi sampai saat ini masih digandrungi oleh masyarakat dunia malahan.

Motor Kawasaki Ninja 150 termasuk motor 2 langkah, dimana untuk pelumasan silinder, oli disemprotkan kedalam ruang bakar atau dicampurkan dengan bahan bakar.

Maka tak heran motor tersebut mengeluarkan asap di lubang knalpot. Lagi saya menemukan kesamaan dengan rokok, karena barang ini juga menghasilkan asap.

Rokok dan Kawasaki Ninja 150 sama-sama dikecam oleh dunia, karena menghasilkan polusi yang berbahaya bagi lingkungan.

Pakai logika saja untuk tahu lebih banyak mana polusi yang dihasilkan rokok dibanding polusi Kawasaki Ninja 150? Jelas polusi rokok lebih banyak toh? Bila di presentasekan jumlah peminatnya, silahkan hitung sendiri!

Berdasarkan premis minor dan major diatas, maka dapat disimpulkan polusi rokok lebih banyak dibanding motor Kawasaki Ninja 150.

Bila dunia menghentikan produksi motor 2 langkah karena polusinya, maka keputusan tersebut adalah langkah teraneh di dunia, karena toh rokok lebih banyak menghasilkan polusi.

Harusnya perokok lah yang dihentikan produksinya, bukan motor Kawasaki Ninja 150? Setuju tidak? biar adil gitu loh, masa cuma motor Kawasaki saja yang kena getahnya

Bagaimana ide bijaksana saya para pembuat standar EURO? Apa bisa diterima?

Imola Syndrome

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.