Riding Style Pembalap MotoGP Ikut Pengaruhi Pembalap Tanah Air??

0
808
sss

OtomotifZone.com-Jogja. Ikut mengamati perjalanan balap era 2000 sampai 2020 ini dan dapat melihat bagaimana perkembangan dari tahun demi tahun suasana racing nasional pastinya ikut perkembangan jaman dan teknologi.

Tak hanya bicara teknologi tapi juga bicara orang-orangnya alias ridernya saat ini. Tiap waktu ada bentuk gaya yang terlihat ada perubahan cara membawa sebuah pacuan.

Tak jarang mereka ada yang meniru gaya pembalap kelas dunia. Ambil contoh pembalap roadrace jaman dulu pertengahan 90an gaya melibas tikungan. Hampir mirip gaya Mick Doohan, Norick Abe, Troy Bayliss atau Kevin Schwantz dimana pantat posisinya condong bergeser ikuti arah menikung sementara badan sedikit tegap lurus tak memaksa ikut rebah.

Masuk ke Millenium baru badan mulai banyak yang menumpu ke depan agar ban punya daya cengkeram. Lalu ke era 4T ada yang pakai gaya rear wheel steering sleeding. Dan kini gaya rebah Elbows dari Ben Spies di populerkan Marc Marquez juga ada yang pakai. Apalagi adek-adek U-12 sekarang berani banget rebahin badan di tikungan.

Lantas benarkah pembalap kita mengikuti gaya atau riding style pembalap dunia? Kita tanya dari beberapa sumber yuk. Pastinya pembalap dari berbagai era dong. Tapi tak semua bisa kita cari informasi karena terkendala komunikasi. Dan masing-masing narasumber juga punya penilaian sendiri-sendiri.

Ada sosok Hendriansyah yang bisa kita minta komentarnya. Ayah Nelson Cairoli ini sempat mencicipi persaingan era 90an sampai era Milenium kala itu. Paham sekali riding style saat naik Underbone, GP125, lalu Supersport.

“Jadi gini mas. Yang membuat riding style itu sebenarnya sirkuit. Yang membuat mereka kurang lebihnya gaya seperti pembalap MotoGP karena sirkuit yang mendukung. Perubahan sirkuit yang awalnya dari pasar senggol yang di batasi karung sekarang sudah banyak yang di permanen pastinya riding style mengikuti perkembangan sirkuit. Begitu juga sebaliknya, yang punya riding style istilahnya ikut seperti MotoGP dan balap di pasar senggol kurang cocok. Seperti contoh teman saya Ahmad Jayadi waktu itu. Riding stylenya benar tapi ketika di trek dadakan jadi lambat,” kata pembalap yang pernah menjadi kiblatnya pembalap tanah air ini.

Hendriansyah, Tergantung sirkuit juga…

Entah naik Bebek atau Sport semua menurut Hendriansyah tergantung sirkuit. “Faktor utama tetap sirkuit sebetulnya. Pakai bebek bisa jika sirkuit panjang, lebar tikungan juga mendukung saya rasa bisa di terapkan,” lanjutnya. Gaya bukan sekedar gaya-gayaan. Melainkan kebutuhan cara memainkan posisi cepat di tikungan.

Menurut Sudharmono ada benarnya pembalap MotoGP mempengaruhi gaya besut pembalap tanah air. Karena pembalap MotoGP adalah kiblatnya pembalap dunia, termasuk Indonesia.


“Ya mesti. Ikut mempengaruhi, masalahnya riding style mereka ada fungsinya. Dan mereka itu riset sendiri-sendiri. Tapi tidak semua riding style bisa di praktekan di semua motor salah satunya jenis motor bebek, itu yang menjadi masalah. Karena di MotoGP gaya itu biasanya dan fungsinya untuk kebutuhan karena cc besar. Takutnya salah praktek cuma gaya saja malah nggak kencang. Juga harus ngerti sikon. Kondisi ban motor Karo sirkuit,” pendapat ayah Veda Ega Pratama ini. Sudharmono juga pembalap yang ikut rasakan level seperti Hendriansyah. Dia generasi Jogja usai Hendri di Asia dengan Supersport.

Sudharmono, punya pengaruh dari rider dunia.

Mereka kini juga menjadi pelatih anak-anaknya. Memperhatikan juga perbandingan cara libas corner era dulu sampai saat ini.

Lalu bagaimana pembalap-pembalap sekarang soal riding style ini? Apakah mereka juga berkiblat pada pembalap MotoGP?

Irfan Ardiansyah yang coba beri komentar. “Kalau secara umum atau basic sama aja sih menurutku tergantung motornya juga. Pengaruhnya 50:50 heheā€¦” ucap cah Ungaran ini.

Irfan Ardiansyah, fifty fifty..

Sementara Wahyu Nugroho yang baru mengendarai spek sport 250cc punya keterangan lain. “Enggak terlalu si mas menurutku soalnya kan setiap pembalap punya riding style masing-masing. Asal nyaman jadi ya dipakai aja,” terang Wahyu.

Wahyu Nugroho, tergantung sikon…

Ya seiring itu tadi. Sirkuit dan teknologi, pasti cara kontrol kendaraan yang di bawa butuh suatu gaya yang dirasa itulah posisi terbaik. Termasuk turun kaki ketika masuk tikungan seperti gaya Rossi dan kawan-kawan. Hendriansyah menambahkan kalau untuk motor bebek sebenarnya bisa juga di aplikasi. “Menurunkan kaki membantu mengimbangi tekanan motor ketika arah motor cenderung keluar dan juga bisa membantu kembali arah motor masuk ke tikungan. Itu bagus di lakukan dengan motor yang kencang, karena butuh bantuan nggak hanya tangan saja,” imbuhnya. Ingat, gaya turun kaki bukan gaya-gayaan. Gunanya untuk keseimbangan..

Masih ada pembalap lain seperti Dimas Ekky, M. Fadli, AM Fadly, Gerry Salim, Rheza Danica, M. Faerozi yang bisa di gali pendapatnya.

Setidaknya pendapat mereka ada yang yang terwakili dengan keterangan di atas tentang pengaruh riding style pembalap kelas dunia.

Penulis : Hafid | Foto : Hafid

Imola Syndrome

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.